Cerita kesulitan air di Indonesia bukanlah cerita biasa, tidak jarang beberapa daerah di Indonesia mengalami hal yang sama seperti yang dihadapi penduduk Desa Pucung.
Kesulitan air telah dihadapi oleh para penduduk Desa Pocung selama bertahun - tahun. Batuan karst dan tanah kapur yang merupakan bagian dari karakteristik geografis di wilayah Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah berkontribusi dalam munculnya masalah kesulitan air. Keadaan ini semakin diperburuk dengan kesulitan mencari sumber air yang layak bagi penduduk setempat.
Hal ini sangat memprihatinkan, seluruh penduduk Desa Pocung harus berjalan beberapa kilometer hanya untuk mendapatkan 10-20 liter air saja. Meskipun debit airnya rendah, sumber air ini adalah yang paling dekat dengan pemukiman penduduk. Sehingga mereka tetap melakukannya walaupun itu sangat memberatkan.
Lalu seiring berjalannya waktu, kisah kesulitan air yang dialami penduduk Desa Pucung mulai menemukan sinar harapan pada tahun 2001, ketika seorang anggota pecinta alam KMP Giri Bahama, Universitas Muhammadiyah Solo, bernama Joko Sulistyo yaitu seorang mahasiswa di Fakultas Geografi dan juga penerima penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2013, menemukan aliran sungai di dalam sebuah gua vertikal yang pernah dijelajahinya, gua tersebut bernama Gua Suruh.
Perjalanan panjang selama 6 bulan dilalui oleh Joko, ia menyusuri 16 gua yang ada hingga menemukan satu gua dengan sungai yang ada didalamnya, yaitu gua Suruh.
Setelah menemukan sungai tersebut di dalam gua yang dalam, Joko menyadari bahwa keberadaan sungai tersebut dapat membantu para penduduk Desa Pocung yang sedang menghadapi masalah kesulitan air, sungai tersebut dapat menjadi sumber air tambahan yang sangat berharga bagi penduduk Desa Pocung yang menghadapi masalah kesulitan air saat itu.
Sehingga pada akhirnya, Joko bersama dengan penduduk setempat dan rekan-rekannya yang juga pecinta alam mulai merencanakan bagaimana cara membawa air dari sungai dalam Gua Suruh yang ia temukan menuju pemukiman penduduk.
Awalnya, tidak ada penduduk desa yang berani memasuki Gua Suruh, akan tetapi setelah beberapa kali penyuluhan tentang pentingnya meberadaan sungai ini, penduduk setempat akhirnya memahami dan bersedia untuk berpartisipasi dalam proyek ini dengan semangat gotong royong.
Banyak pihak berkontribusi pada proyek ini. Penduduk menyumbangkan tenaga, pemerintah desa mencari dana dari APBD, Joko dan rekan-rekannya yang pecinta alam berkontribusi dengan keahlian, pemikiran, dan waktu yang mereka miliki untuk mewujudkan proyek ini.
Berkat kolaborasi ini, setelah menerima sumbangan dari beberapa donatur, usaha keras untuk mengalirkan air dari dalam gua ke desa akhirnya tercapai. Sekarang, air dapat dipompa ke atas, disimpan dalam beberapa menara air di atas bukit, dan penduduk desa dapat mengambil air dari penampungan kapan pun mereka membutuhkannya.
Proyek tersebut berjalan sangat lama, hampir 12 tahun lamanya hingga proyek ini berhasil dan Desa Pocung sudah tidak kesulitan air lagi.
Sehingga saat ini Desa Pocung sudah tidak mengalami masalah kesulitan air seperti dulu lagi. Apresiasi sangat perlu diberikan kepada para pencetus proyek aliran air untuk tanah kering di Desa Pocung tersebut.
Kehadiran Joko bersama para rekan-rekannya berperan besar terhadap kelangsungan hidup para penduduk Desa Pocung hingga saat ini mereka sudah tidak kesulitan lagi seperti dulu dalam memperoleh pasokan air bersih. Sehingga tidak mengherankan jika ia menjadi penerima SATU Awards pada tahun 2013.